Ini cerita tentang Bulan, seorang gadis kaya dengan harta bergudang – gudang yang menjanjikan padanya lebih dari sebuah kebahagiaan. Harta yang memungkinkannya menghabiskan waktu berjam – jam dengan hanya dengan melemparkan kaki dan tangannya pada seseorang untuk dibersihkan. Menikmati setiap belaian yang dinamakan perawatan agar rambutnya yang lembuit selalu menawan.
Bulan bahkan tak terbiasa menggunakan jemarinya dengan optimal sejak belia. Ia menggunakan jarinya ketika butuh untuk menunjuk dan itulah yang terjadi hingga kini. Bulan tak terbiasa menghabiskan waktunya untuk sekedar mengobrol apalagi berempati terhadap orang – orang disekelilingnya. Bila mulutnya terus – menerus bergerak hanya ada tiga kemungkinan : makan, mengomel atau memerintah para “si kecil” baginya.
Wajah Bulan cantik. Keindahan fisiknya mampu membuat siapa saja yang melihatnya menahan nafas. Ia begitu sempurna. Sayang, jarak kedua sudut bibinya tak pernah jauh. Selalu didekat – dekatkannya hanya agar orang lain enggan.
Bulan enggan berteman, baginya orang yang mendekati dan melamar menjadi temannya hanya ingin menghisap kekayaannya. Ia tak pernah tahu daya hisap orang – orang itu, maka ia tak ingin ambil resiko. Di sekolahnya Bulan memang punya sekelompok orang yang selalu setia baginya. Namun semuanya berpangkat tak lebih tinggi dari si bibi, si inem, sopir, satpam di rumahnya. Begitulah Bulan memandang dunianya terlalu naïf, munafik tingkat tinggi.
Bulan selalu menjadi ratu dimana – mana, ia disanjung dan dipuja. Tak terhitung lagi berapa banyak pria muda hingga paruh baya yang saling adu kuat tapi hanya dianggap “hiburan” bagi Bulan. Begitu pula dengan hati para pemudi yang ingin menjadi seperti seorang Bulan.
Bulan tetaplah Bulan, indah namun hanya bisa dipandang tanpa mampu digapai. Ia hanya bisa dinikamti dari kejuahan. Bulan menjaga jarak dengan siapapun. Ini bentuk balas dendamnya pada perlakuan orang tuanya. Ia asing bagi mereka. Orang tua Bulan kira dengan mencukupkan segala kebutuhan puterinya bahkan melebihi batas maksimal, Bulan akan bahagia. Mereka lupa bahwa Bulan juga butuh belaian, tempat mengadu serta sahabat yang mengerti keinginan hatinya.
Bulan tak pernah merasakan ciuman mama-papa yang mendarat pada pipi mulusnya ataupun sekedar ucapan “selamat” , padahal peringkat yang tertera pada lembaran raportnya selalu pertama. Bulan kesepian, ia sendirian.
Bulan frustasi, tapi anti mengiba – iba. Ia punya segalanya. Ia cantik, hartanya berlimpah. Semua orang adalah budaknya dan ia adalah ratu. Dibenakannya dirinya yang begitu mempesona dari satu laki – laki hingga yang lain. Ia mencari rasa aman dan nyaman tapi yang didapat selalu penghiantan. Bulan itu cantik, tapi membosankan. Begitu kata para prianya.
Jadilah Bulan memasang kelambu dan benteng berlapis untuk melindungi dirinya. Ia tak pernah ingin melukai orang lain lewat kata dan perbuatannya. Semua yang ia lakukan hanya semata untuk melindungi raga dan hatinya agar tak tersakiti lagi