Siang itu begitu cerah. Matahari mengirim sinarnya ke bumi tanpa malu – malu. Sinar itu senantiasa menembus awan demi bersilahturahmi dengan penduduk bumi ketika hampir mayoritas jumlah mereka yang bergulat dengan kesibukan di luar rumah. Entah kesibukan pekerjaan, perkuliahan, sekolah atau apa pun yang mengharuskan mereka berada di luar ruangan dan berjumpa dengan suasana bukan ala temperatur kamar, baik normal ataupun kamar bermesin pendingin.
Matahari memang adil, dibaginya dengan cuma – cuma sinar yang mengandung energi itu pada siapa saja tanpa tebang pilih. Namun sayang, tak semua yang mendapat bagian sinar itu bersikap baik. Beberapa bahkan ada yang terang – terangan menolak keberadaanya. Ada yang berlindung dengan menyalakan mesin pendigin mobil, ada yang menggunakan baju panjang atau sarung tangan dan kaus kaki lengkap dengan sepatunya (khusunya bagi pengemudi motor) untuk menutupi permukaan tangan atau bagian tubuh yang dirasa perlu dari jamahan mentari, ada pula yang melindungi tubuhnya dengan menggunakan sejumlah produk yang iklannya menjanjikan perlindungan terhadap terpaan sinar matahari yang diberi image merugikan itu.
Sementara pada pelataran umum itu, di sisi jalannya berjejeran beberapa orang yang nasibnya tak seberuntung para pengendara mobil itu. Jangankan untuk membeli produk pelindung kulit seperti para pemudi yang terpaksa berlalulintas menggunakan angkutan umum namun tak ingin kulitnya menggelap. Atau seperti pengemudi motor yang menutupi selurih tubuhnya kecuali wajah dengan dalih menghindari pinangan debu dan mentari dengan manusia. Mereka tidak termasuk dalam barisan orang – orang yang sibuk membenamkan diri dengan berbagai keperluan itu.
Diatas semua usaha para penakut matahari, kaum marginal dipinggir jalan itu makin terpojok dan pasrah menerima kasih sayang dari Tuhan itu, meski resikonya adalah kulit mereka akan berubah warna menjadi makin gelap. Bagi orang Indonesia, warna kulit gelap termasuk dihindari. Kesan tak cantik yang telah “dijual” para produsen pemutih kulit menjadi ujung tombaknya. Padahal bila ingin menalarkan logika, Indonesia adalah negara tropis yang berada pada garis khatulistiwa dan mendapat sajian jumlah sinar matahari yang cukup banyak, selain itu rata – rata gen orang Indonesia memang menjatahkan warna kulit gelap bagi pemilinya. Lantas, mungkinkah takdir itu dilawan oleh keinginan manusia yang ingin berkulit putih cerah?
Keperluan kaum marjinal tentu tak lepas dari soal perut. Bagi mereka, penampilan tidak termasuk dalam skala prioritas. Maka kulit merekalah yang menjadi wadah empuk bagi paparan sinra matahari. Namun apa daya kaum ini menolaknya semantara tak dimilikinya fasilitas seperti para pengguna kendaraan yang melintas itu?
Sadarkah para pernakut matahari yang berlindung pada temperatur yang dihasilkan mesin pendingin udara itu menyumbang robekan demi robekan yang terus menjajah lapizan ozon. Sehingga apa yang mereka lakukan sejatinya adalah upaya sia – sia yang berujung kerusakan alam yang kian parah.
Selasa, 24 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar