Jika ingin bertanya tentang kebebasan, bertanyalah pada kawanan burung. Mereka bisa menentukan kemana kepak sayap akan membawanya karena tujuan yang ditetapkan telah jelas yakni mencari penghidupan. Maka mereka akan senantiasa bergerak pada nadir – nadir yang menjanjikan kenyamanan serat harapan akan hari esok.
Jika ingin belajar tentang kesetiakawanan, menataplah pada langit biru, disana akan terlihat barisan burung yang berjajar rapi. Mereka mengapakan sayap dalam kemerdekaan yang tanpa pretensi siapapun namun juga tak melupakan pola dan kebersamaan. Barisan mereka terjajar begitu rupa. Siapapun yang melihatnya akan terperangah kagum apalagi jika dipadukan dengan langit biru muda.
Jika ingin belajar pantang menyerah, tengoklah anak burung yang sedang belajar terbang. Dipaksa kepaknya sayap muda itu meski geraknya masih jauh dari sempurna. Ia memulanya dengan berjalan menaiki suatu permukaan yang lebih tinggi dari sekitarnya lalu menjatuhkan diri dan menantang diri untuk menolong diri sendiri. Ia membuat dirinya berada pada posisi terhimpit agar sayapnya kuat. Meski jatuh bertubi – tubi, nyatanya ia mampu menakhlukan ketinggian.
Kawanan burung terbang bebas. Ketinggian langit bukanlah sebuah ketakutan bagi mereka. Dari sudut mata mereka akan terlihat keindahan bumi meski bentuk sesungguhnya tak selalu mempesona.
Senin, 22 November 2010
Kepulan Pelangi
Aku bertahan disebelahmu. Menghirup setiap aroma yang disajikan alam dengan kemayu dan kegagahannya masing – masing. Aku tak hanya menyimak tingkahmu baik – baik tapi juga menjadikannya sebagai jejak disuatu tempat rahasia. Tempat itu bernama pelangi, indah, mengesankan dan langka. Itulah kamu
Aku sampai terbatuk – batuk karena tak berhenti tersungging senyum tapi tak sesak nafas karena tak ada debu yang mampir meski setitik. Aku tak keberatan menonton kabaret garing semalam suntuk ataupun membersihkan lawa – lawa diatas atap. Satu syaratnya, kamu selalu ada dan menghadirkan kepulan pelangi agar kita bisa saling bersenyawa disana.
Aku sampai terbatuk – batuk karena tak berhenti tersungging senyum tapi tak sesak nafas karena tak ada debu yang mampir meski setitik. Aku tak keberatan menonton kabaret garing semalam suntuk ataupun membersihkan lawa – lawa diatas atap. Satu syaratnya, kamu selalu ada dan menghadirkan kepulan pelangi agar kita bisa saling bersenyawa disana.
Selasa, 16 November 2010
Setengah
Sebuah pintu pagar kayu yang reot berdiri tertahan didepan sebuah rumah kokoh dengan idealisme liberalis yang sangat lekat. Sang pagar yang realistis begitu menginginkan menjadi bagian dari rumah klasik yang mengadopsi gaya ningrat itu.
Meski tahu itu mustahil, sang pagar selalu berharap, ia menaburkan harapannya dalam segenggam doa yang selalu dipersembahkan setiap purnama. Diberikannya yang terbaik yang ia bisa. Ia tak peduli pakah sang rumah mewah menyadari pengorbanannya yang terus berjaga dari kejauhan.
Ia memang pagar tua reot yang menginginkan menjadi bagian dari rumah mewah tanpa pernah ingin mengubah dirinya menjadi pagar mewah agar cocok bersanding di sana. Baginya, rumah tua itu adalah batu dan dirinya air. Ia akan terus menerus menetesi batu dengan air hingga akhirnya berlubang.
Dari rumah mewah itu, lalu lalang orang masuk. Ini karena sang tuan rumah baik hati, dijamunya setiap orang yang hadir. Keberadaan mereka pun karena undangan yang tak mengenal omega, terus menerus. Ribuan orang hadir, dan sang pagar reot ters menagamati, takut ada pencuri yang merebut isi rumah mewah itu. Lelah betul perasaan sip agar reot. Dia harus terus menerus menahan airmata manakalan ada yang datang dan menjamah rumah impiannya.
Kini, sang pagar reot mulai letih karena harapnya tak kunjung nyata. Ia merunduk, menutup pagarnya. Namun baru setengah menutup, sang rumah tersenyum dan mengajaknya bercanda, meretas hari bersama. Pagar reot membuka lagi dirinya, dibiarkannya angin malam dan terik mentari menembus tubuhnya demi bisa menatap sang rumah mewah. Lalu tamu yang tanpa omega itu datang lagi, senyum rumah mewah pun beralih. Sang pagar reot menunduk lagi.
Demikian terus menerus, sang pagar reot tidak pernah bisa menutup diri karena sang rumah terus menerus membutuhkannya ketika malam tiba dan tak ada tamu yang datang. Demikianlah, sang pagar reot hany bisa menutup diri setengah saja. Setidaknya ini adil bagi dirinya dan rumah mewah. Ia menjaga pertahanan dirinya serta menjaga rumah mewah agar tidak pernah kesepian.
Meski tahu itu mustahil, sang pagar selalu berharap, ia menaburkan harapannya dalam segenggam doa yang selalu dipersembahkan setiap purnama. Diberikannya yang terbaik yang ia bisa. Ia tak peduli pakah sang rumah mewah menyadari pengorbanannya yang terus berjaga dari kejauhan.
Ia memang pagar tua reot yang menginginkan menjadi bagian dari rumah mewah tanpa pernah ingin mengubah dirinya menjadi pagar mewah agar cocok bersanding di sana. Baginya, rumah tua itu adalah batu dan dirinya air. Ia akan terus menerus menetesi batu dengan air hingga akhirnya berlubang.
Dari rumah mewah itu, lalu lalang orang masuk. Ini karena sang tuan rumah baik hati, dijamunya setiap orang yang hadir. Keberadaan mereka pun karena undangan yang tak mengenal omega, terus menerus. Ribuan orang hadir, dan sang pagar reot ters menagamati, takut ada pencuri yang merebut isi rumah mewah itu. Lelah betul perasaan sip agar reot. Dia harus terus menerus menahan airmata manakalan ada yang datang dan menjamah rumah impiannya.
Kini, sang pagar reot mulai letih karena harapnya tak kunjung nyata. Ia merunduk, menutup pagarnya. Namun baru setengah menutup, sang rumah tersenyum dan mengajaknya bercanda, meretas hari bersama. Pagar reot membuka lagi dirinya, dibiarkannya angin malam dan terik mentari menembus tubuhnya demi bisa menatap sang rumah mewah. Lalu tamu yang tanpa omega itu datang lagi, senyum rumah mewah pun beralih. Sang pagar reot menunduk lagi.
Demikian terus menerus, sang pagar reot tidak pernah bisa menutup diri karena sang rumah terus menerus membutuhkannya ketika malam tiba dan tak ada tamu yang datang. Demikianlah, sang pagar reot hany bisa menutup diri setengah saja. Setidaknya ini adil bagi dirinya dan rumah mewah. Ia menjaga pertahanan dirinya serta menjaga rumah mewah agar tidak pernah kesepian.
Bocah Nekat
Ini bukan tantang bocah nekat atau akrab dipanggil bonek yang dikenal sebagai supporter sepak bola. Ini tantang seseorang yang berjiwa petualang dan menykai tantangan, malangya ia tak pernah memperhitungkungkan besar kemungkinan gagal atau berhasilnya perjuangan yang ia torehkan. Ia hanya tahu berusaha dan percaya, apa yang diinginkannya tidak akan hanya diam melihat kerja kerasanya.
Ini tetang tekad dan keinginan. Baginya , ini sudah mencapai batas kesabaran untuk gagal, menyerah, lalu menghilang bersama debu jalanan dan tapak – tapak manusia baru yang melintas. Dan bagi yang satu ini, ia sangat menginginkannya, memang tidak butuh karena ia bisa mengakomodir kebutuhannya sendiri tanpa si keinginan. Bocah nekat hanya ingin menggantung, memiliki partner berbagi yang pasti dan tidak lagi menjadi pecundang. Satu tahun delapan bulan, digenggamnya hatinya bersama apa saja yang ia dapat sebagai perbekalan.
Ini mengapa ia disebut bocah nekat. Ia tahu perjalanan menuju keinginan begitu panjang, berliku, terjal, bahkan harus menyebrang di atas jurang yang dalamnya hanya diketahui tanah dasar si jurang. Namun ia tetap berlari, kadang tersandung, lalu berlari lagi hingga pengap udara di paru – parunya. Kini ia sampai pada satu sisi hutan duri. Memilih mundur tak mungkin lagi, maka ia hanya maju perlahan sambil mengamati duri yang hendak dilaluinya, satu persatu. Malang, ia tertusuk. Kini darah melumer ke mana – mana dan si bocah hanya sendiri. Ia juga tak bawa obat, luka – luka itu hanya dibiarkan kering tanpa diberi obat. Ia lalu berjalan lagi, kali ini hampir pingsan, tapi tekadnya mencapai garis finis hampir sampai
Ini tetang tekad dan keinginan. Baginya , ini sudah mencapai batas kesabaran untuk gagal, menyerah, lalu menghilang bersama debu jalanan dan tapak – tapak manusia baru yang melintas. Dan bagi yang satu ini, ia sangat menginginkannya, memang tidak butuh karena ia bisa mengakomodir kebutuhannya sendiri tanpa si keinginan. Bocah nekat hanya ingin menggantung, memiliki partner berbagi yang pasti dan tidak lagi menjadi pecundang. Satu tahun delapan bulan, digenggamnya hatinya bersama apa saja yang ia dapat sebagai perbekalan.
Ini mengapa ia disebut bocah nekat. Ia tahu perjalanan menuju keinginan begitu panjang, berliku, terjal, bahkan harus menyebrang di atas jurang yang dalamnya hanya diketahui tanah dasar si jurang. Namun ia tetap berlari, kadang tersandung, lalu berlari lagi hingga pengap udara di paru – parunya. Kini ia sampai pada satu sisi hutan duri. Memilih mundur tak mungkin lagi, maka ia hanya maju perlahan sambil mengamati duri yang hendak dilaluinya, satu persatu. Malang, ia tertusuk. Kini darah melumer ke mana – mana dan si bocah hanya sendiri. Ia juga tak bawa obat, luka – luka itu hanya dibiarkan kering tanpa diberi obat. Ia lalu berjalan lagi, kali ini hampir pingsan, tapi tekadnya mencapai garis finis hampir sampai
Langganan:
Postingan (Atom)