Rabu, 12 Januari 2011

Setetes Rindu untuk Pohon Perdu

Tiga tahun perjalanan ini kulalui tanpa dirinya. Ia yang telah ringkih, pergi menjejak tanah lain yang berkilo – kilo meter jauhnya dari hutan perdu. Ia yang entah berlari atau jengah dengan segala bentuk perendahan yang memporak porandakan harga dirinya. Ia yang berusaha mencarikan gandum terbaik dari sawah yang berlumpur….
Ia ayahku

Pria itu tubuhnya tak kekar, namun sehat berisi. Kulitnya serupa sawo yang ranum, manis begitulah perangainya. Tak segan ia mengulurkan tangan bagi mereka yang butuh, sekalipun hanya dipandang sebelah mata ia akan tertawa lebar – lebar. Ditengah dayanya yang serupa bangku reot, masih dijejal – jelakannya usaha agar sesamanya bahagia.

Dia volentir kebanggaaku. Tak ada tanda jasa yang layak disandingkan baginya. Itu karena ketulusannya yang menyejukan seperti pohon perdu.

Dan aku, si musim kemarau yang kering di sini merindukan si pohon perdu yang menjanjikan oksigen berkali lipat lebih banyak…
Sungguh aku tak menyesal menjadi buah pohon perdu, sekalipun rupaku tak seindah apel atau menggoda seperti anggur tapi si pohon perdu mewariskan kesejukan yang kini hendak kubagi pada mereka yang tak menengadah

Selasa, 04 Januari 2011

T I T I K

Poros bumi bergetar menuju ringkasan nadi yang terbujur pasrah. Zona – zona itu telah tersedia tanpa dipandu, menyeimbangkan diri melalui sayap – sayap yang rapuh. Tertatih, bertahan…..
Baris kata yang terangkai dengan untaian daun waru berlapis kemangi merah putih yang tersusun dengan sangat apik ini pun harus berhenti pada sebuah titik. Tanpa diundang, tanpa permisi, tanpa kata, pun tanda baca
Begitu pun dengan semua yang pernah tertumpah sampai ruah, banjir hingga terjegal – jegal, melompat dengan pemahaman yang sedikit lalu bernegosiasi dengan apa saja yang ada, sekuat tenaga pun waktu selalu enggan. Menuju ke barat namun selalu barat daya yang tersenyum. Terpaku, focus yang terhisap
Akhirnya titik ini hanya bisa berbagi dengan malam yang diam. Titik pun pertanda diam. Titik kini penuh dalam saku, tinggal memilih mau yang mana
Titik itu datang dengan amarah, malu, tersipu, lalu sadar bahwa ia adalah titik
T E R I M A K A S I H

Bukan di Khayangan

Seorang gadis cilik, kecil, bermandikan gula – gula dengan topi pelangi, berenang diantara kepulan awan yang tak lelah membelai. Ia bisa menikmati warna langit yang terus menerus biru dengan cahaya matahari dengan sinar hangatnya. Kehangatan yang tak akan pernah menjadi panas atau pun dingin. Gadis kecil itu bisa makan kue kapan saja, tanpe memikirkan rasa lapar atau kekurangan. Ia membuat istana pasir dari kumpulan udara yang dibekukan dengan sejumput garam. Si gadis memanen biji kopi diantara lengkungan pelangi, menari dengan lagu merdu dari kicauan burung gereja yang selalu lewat, bernyanyi bersama tiupan angin.
Nyatanya si gadis terjatuh, terjerembab menyentuh tanah. Tak ada pelangi, tak ada matahari yang selalu hangat, jauh dari kicauan burung bahkan dari puncak pohon. Gadis kecil hanya menatap ke atas, menggapai gemintang yang sinarnya tak terlihat, menghayalkan tetang kehidupan diatas sana. Si gadis polos kini menyadari, ini bumi. Kerap ia harus terjatuh untuk tahu artinya bangkit, mengais untuk bisa menghargai kepunyaan, meminta untuk bisa memberi. Ia harus belajar merangkak untuk bisa berjalan kemudian berlari lalu mengepakan sayap dan terbang. Ia belajar, karena ini bukan khayangan