Senin, 11 Juli 2011

Diam Tak Selalu Beku

Ruang hampa berpendar dalam sunyi...
Sepi kini berpesta pora memenuhi ruang yang katanya tak pernah kosong.
Nyatanya, kini hampir separuh penghuni pergi meninggalkan kenyamanan
berpulang pada tanah yang digarap bapaknya pun digarami ibunya
diam kini memberi banyak ruang untuk berlari..
Diam menyelamatkan manusia dari racun evolusi yang perlahan membunuh
Diam mengajakku berbicara dengan angin, yang adalah aku..

Terimakasih Kata, Dunia tanpa Batas

Terimakasih Kata yang brpendar tanpa lelah, merangkum semua cerita lalu tercurah pada tuts-tuts bisu yang bagiku berharga
Terimakasih kata untuk antibodi yang berubah jadi potret ketika gelisah terus membayang
Terimakasih kata, dunia ukiran yang lebih indah dari batu pualam...
Aku bisa berjalan lalu berlari
Aku bisa merangkak kemudian terbang
Aku bisa mengatakan cinta lalu benci pada orang yang sama

Semua tercurah begitu indah di atas kanvas bernama kehidupan

Minggu, 10 Juli 2011

Hitungan Bilangan Bintang

Dulu kita berkalang tanah, tubuh kita bermandi debu dengan bau yang tak sedap pun rupa yang tak mengundang selera. Dulu kita harus bertiarap hanya supaya tak termakan zaman.
Dulu kita berlima…
Lalu seorang diantara kita belajar terbang.Sayapnya yang tak seberapa kuat pun belajar untuk menjadi tangguh.Aku terlempar dalam dimensi yang berbeda, ruang yang berbeda,
Pada tempat yang aku anggap derita…
Aku sendiri, melancong. Tak tahu cara untuk gembira.Kamu yang belajar terbang mulai mahir.Langkahmu tak lagi sempoyongan sekarang. Perlahan-lahan kita mengangkasa
Bukan berlima tapi berempat.
Kini aku lebih mudah bernafas. Awan biru bertebaran disekelilingku. Mereka yang dulu tak pernah mendekat, kini berlomba mencari nama di depan kamu. Lalu aku dan mereka yang dua pun kena getahnya.
Menyedihkan, kita hanya sebatas lembaran.
Mungkin kamu tak sadar karena sedang terbuai. Tak mengapa…
Kita boleh mengangkasa melampaui dari yang ada dalam angan. Kia bisa berenang dalam buaian awan lalu bermandikan ombak dari cahaya bulan teriring salam pengakuan dari daun yang menari indah setiap angin bertiup.
Tapi satu hal tak mungkin luput,,, sekalipun biru disini begitu indah dan membuai, aku masih merindukan tanah yang berkalang pada tubuh kita dulu.
Kita yang bergelimang bintang kini menghitung lagi. Empat bukan lima..