Selasa, 24 Agustus 2010

Hijau yang Hangus

Dulu di sini rimbun, sejuk, tentram. Belum ada kebisingan deru mesin yang berlomba mengeksekusi ketemtraman itu. Kini hijau tak lagi jadi tuannya, ia tak mapu lagi merayu siapa saja untuk melepas lelah dan tak lagi berdaya untuk menyediakan udara yang menjadi sahabat paru – paru. Si hijau mengais pilu, ia merasa sendiri. Tak banyak yang peduli. Padahal ia hanya ingin melayani kebutuhan manusia, tapi manusia terlalu pintar untuk berpikir tentang ketentraman si hijau. Ia lebih mudah untuk membuat lubang – lubang atas nama pondasi di sana – sini. Tak ada lagi tempat kehidupan si hijau di tengah kota. Kokohnya si dahan sebesar tiang kini tak lagi mudah terlihat.

Si hijau terjajah. Turun tahta dari si penguasa yang melayani menjadi si terjajah yang tersingkir. Kini si hijau jengah. Tak dimilikinya lagi tempat tinggal, semua diambil. Sahabanya si cokelat baik hati kini telah menjadi jahanam. Diajaknya bekerja sama semua zat di perut bumi, dari yang hanya berefek ringan hingga berat.

Kita hanya bisa tercengang, ada yang menangis,juga meratap. Kemegahan yang direnggut dari si hijau harus hilang lagi. Sesuatu yang didapat dengan cara jahanam, akan pergi dengan cara yang sama.

Tidak ada komentar: