Minggu, 25 Maret 2012

Upacara kecil untukmu, tanpa kamu

Lilin merah darah yang ditengah ruangan itu diam, namun gemerlapnya menari dalam alunan sepi.
Kutengok leleran empedu plastik itu membentuk buliran.
Aku terus memandang pada serbuk kayu tua yang pasti kesakitan terkena cairan yang akan beku lagi itu.
Hey, mengapa tak lari saja?
Mengapa suka sekali berdiam lalu menikmati sakit?
Kujentikan jari meleburi buih hari,
Hey, aku begini untukmu tau...
Kutiup hempasan udara untuk padamkan tarian api kecilnya
"Selamat ulang tahun sayang"

*perayaan kecil untukmu, tak mengapa jika kau sedang asik mengalun dalam liukan sibuk atau tengah merangkul dirinya.
Salam dari mimpiku

Mari Kita Bersama

Aku marah. Kamu kecewa. Aku menangis. Kamu meraung. Aku Kamu. Terdiam. Diam diam membangun tembok. Diam diam saling menyingkir. Diam diam menyimpan bara dalam hati. Diam diam menyayat dinding kasih sayang yang terbangun sejak aku kecil. Kasih sayang yang selalu kamu bagikan lewat perhatian pun tatapan cemas tatkala aku tersenggal merayap dalam helaan nafas.

Pesan singkat itu tak seperti yang kamu lihat. Seperti sebuah potret, ia hanya bagian yang tak bisa dilihat hanya satu. Aku terangkai dalam lorong waktu, terbiasa dengan biasamu pun celotehan yang nyatanya punya peranan penting dalam bentukanku kini.

Hey, kamu kecewa? Kamu marah? Kamu terkejut karena nyantanya aku juga miliki taring yang kamu bisikan ketika aku pulas? Aku juga marah, aku juga kecewa.

Ayo kita marah bersama. Biar kobaran api itu mengalah atas nama tali darah yang kita punya. Persetan dengan mereka yang masih mau simpan bara. Jelasnya aku tidak berkenan.
Terimakasih

Minggu, 12 Februari 2012

Halo Langit Biru

Jendelaku kin tak lagi langsung mengarah pada rembulan di ufuk barat
Jejaring plastik yang entah apa namanya itu menghalangi bias mentari yang biasanya memanggangku hingga pekat
Hai langit biru,
maaf dari sini birumu tak terlihat jelas terhalang pastisi
Hai sinar silau matahari,
Aku rindu tertawa berderai dibawahmu seperti dulu
Rindu ikatan rambut asal tanpa harus terlihat rapi...
Rindu teriakan melangking yang dianggap biasa
Hei, langit biru...
Jangan berubah warna ya
Aku ingin melihat birumu lagi nanti
Biar bisa kuceritakan tentang birumu pada anakku kelaka
Agar kuserahkan dia melangkah sambil ditingkahi panas ombak lalu debu jalanan
Agar ia bisa terbang kelak
Dan tak berlindung dibalik partisi seperti aku