Sabtu, 11 September 2010

Trauma Masa Kecil

Ruangan itu senyap, hanya ada seorang wanita berparas cantik, bertutur halus, bergesture tertata, bajunya wangi dan Doni yang berambut acak – cakan, berkata sembarangan, bertingkah tak berteraturan. Mereka berdiskusi, saling menghadap dengan dibatasi sebuah meja yang juga tertata apik seperti pemiliknya, wanit di depan Doni.

Wanita itu menatap Doni, tersenyum, mungkin berempati terhadap keadaanya. Tapi Doni tak butuh belas kasih. Jujur, aku juga tidak suka di sini. Tatap terakhir wanita itu kini diiringi dengan senyum yang berbeda dari yang tadi. Kini ia mulai bertanya
“Siapa namamu?” lembutnya ia bertanya
“Doni Barata” jawabku enggan
“ Doni, sejak kapan barang – barang di rumah dan disekolahmu mulai hilang?”
“Sudah lama”
“Siapa yang ambil?”
“Ale”
“Siapa Ale?”
“ Bocah kecil, umurnya 10 tahun. Kasihan dia, selalu dipukul ayahnya jika minta uang”
“Kenapa begitu?”
“Ayahnya jahat. Ale selalu dibilang anak nakal, ga bisa diatur tapi sebenernya dia baik”

Sesaat kemudian, Doni menangis meraung – raung. Sang dokter tersenyum, ia menatap Doni sambil bertanya perlahan
“Doni”
“Aku Ale”
“Ale? Kamu yang ambil barang – barang di rumah Doni?
“Ia”
“Kamu juga ambil barang temen – temen sekolah dan guru – guru Doni?
“Ia”
“Kenapa?”
“Aku nggak suka ngeliat orang lain punya barang mewah. Nanti jadinya sombong”
“Kok gitu?”
“ Ia, semau orang yang punya barang mewah pasti jadi sombong trus ga peduli sama sekitarnya”

Tak sampai sedetik, suara itu berubah menjadi suara Doni
“Dokter, tau nggak? Ale ambil barang – barang itu supaya nggak ada kesenjangan social. Dia masih kecil tapi bijak kan? Hahhahahahaha”

Dokter menggangguk. Ia menulis pada kertas diagnosisnya, Doni Barata mengidap kepribadian ganda. Ia adalah Doni yang berusia 17 tahun dan Ale yang berusia 10 tahun. Ale tak lain adalah Doni kecil yang sangat takut pada sang ayah dan tidak pernah mendapat perhatian dari ibunya. Doni kecil selalu menerima penghinaan serta cacian dari orangtuanya karena selalu dianggap mengganggu ketenangan mereka bekerja.

Cerita untuk angin

Terimakasih angin, karena kamu ada dan diciptakan untuk menyejukan. Terimakasih karena sifatmu yang nomaden sehingga tuanmu hanyalah kebebasan. Boleh jujur tidak? Aku iri padamu. Sangat iri. Tidak ada yang bias mengekangmu, tak satu pun sanggup memilikimu karena kamu tak bias dibelenggu bahkan oleh pertauran dan norma – norma yang mengikatku.

Angin, maaf karena aku hanya memanggilmu selahi butuh dan sekarang aku ingin bercerita padamu. Bukan hanya untuk menuntaskan rasa penat atau gerahku tapi untuk menceritakan kegundahanku. Bukan jawaban yang aku butuhkan, tapi hanya kemampuan berbicara yang setidaknya bisa sedikit mengangkatku dari semua hal yang kuanggap masalah

Angin, aku rindu dia. Tapi tidak mungkin membagi kisah ini pada dia yang menjadi sasaranku. Sekali lagi tidak mungkin. Pada mereka yang biasa mendengar juga sepertinya bukan pilihan tepat. Mereka jengah. Maka aku pilih kamu dengan alasana kamu tidak akan mungkin bosan karena setelah mendengarku kamu akan pergi dan tidak ingat percakapan kita

Aku ingin memiliki dia tapi kepalaku selalu menghadang dengan menyajikan jawaban tidak mungkin. Mungkinkah angin? Kemarilah angin, jangan pergi dulu aku belum selesai. Mari kita bercanda, bermain atau apalah. Aku tidak butuh dihibur, hanya butuh teman untuk berdiskusi