Selasa, 24 Agustus 2010

Ketidaksempurnaan

Kiara baru saja pulang. Make – up tebal sisa pemotretan tadi masih melekat pada wajahnya. Ia sudah terlalu lelah sehingga memutuskan untuk langsung naik ke mobil dan akhirnya tertidur disana. Kiara adalah seorang model terkenal. Ia baru saja menyelesaikan pemotertan di sebuah studio di bilangan Jakarta Selatan.

Tak terasa, Kia, panggilan akrabnya sudah sampai di rumahnya. Langkahnya sempoyongannya pun dipaksa berjejalan pada anak tangga menuju kamarnya. Kini Kia telah sampai pada depan pintu kamarnya. Dengan kelelahan yang masih tertahan, ia duduk di depan meja riasnya. Selalu diingatnya pesan bunda untuk selalu membersihkan sisa make – up agar kulit wajahnya tidak berjerawat.

Mata lelah Kia kini tertumpu pada bayangan di depannya. Jelas terlihat disana seorang wanita dengan kemeja merah dan celana pendek dengan make – up tebal. Betapa sempurnanya wajah Kia disana. Tidak ada bekas jerawat, sapuan bedak menyamarkan kulit wajahnya yang sedikit agak lebih gelap. Sapuan bedak yang hampir sama pun sukses menutupi kantung matanya. Sisi glamournya tercermin dari riasan warna dikelopak matanya. Hidungnya yang tidak terlalu mancung nampak runcing sempurna dengan derajat yang tepat sesuai dengan bentuk wajah ovalnya.

Kia tercenung. Begitu sempurna gambaran dirinya dicermin itu. Apakah harus dihapus? Kia terdiam. Ia masih tak menemukan jawabannya. “Tapi ini semua palsu” sebersit suara itu timbul dari sudut hati Kia yang paling pojok. Kia terkejut mendengarnya. Palsu? Kesempurnaan ini palsu? Lalu apa yang hakiki.

Mata Kia tertumpu pada seonggok kapas dan dua botol larutan pembersih. Ini rutin dilakukannya hampir setiap malam. Lalu mengapa harus jengah? Mengapa harus ragu untuk menghapus kesempurnaan semu ini? Namun malam ini lain, seruling hari meniupkan hembusan tanda usia Kia yang resmi bertambah. Ia menghantarkan Kia pada sebuah perenungan yang mahal harganya.

Diambilnya beberapa lembar kapas lalu dibubuhkan cairan pembersih yang berupa cream. Sapuan kapas Kia mengembalikan warna asli kulitnya. Tak ada lagi gemerlap dan warna – warni yang tadi menghiasi wajahnya. Yang terlihat sekarang hanyalah wajah muda seorang gadis berusia 20 tahun dengan warna yang tak merata antara bagian leher dan wajah, hidung yang tak seberapa mancung serta bekas jerawat samar pada bagian kiri pipinya serta kantung mata yang menggantung dibawah matanya.

Kini Kia menatap gambaran dirinya pada cermin di depannya. Inilah kesempurnaan dirinya sebagai manusia. Letaknya yang paling hakiki ada pada ketidaksempurnaan. Kesempurnaan tidaklah selalu terlihat indah.

Tidak ada komentar: