Kamu masih saja menggatang, sama seperti kemarin – kemarin. Tak pernah terkatan dari bibirmu tentang hatimu yang porak poranda ataupun ketika kau berdansa di lantai marmer bernama sukacita. Tak pernah kau bagikan tangis yang menyayat sampai yang kulihat hanya ada kerut diwajahmu.
Tak pernah kujumpai sejumput kawan yang tumbuh bersamamu, seperti kawanan semut yang rela menggotong bangkai ramai – ramai. Mereka hanya membagi kisahnya, bukan berarti mereka tak mau tahu tentang kepedihan yang hanya kau belah bersama sebelah jiwamu. Aku tahu betapa robohnya pertahananmu, kenyataan ini sungguh bukan perkara semudah memakan buah simalakama. Bahkan untuk bersimpuh pada teras sang empunya saja kadang kau malu
Kamu selalu menghabiskan malam – malam sebelum tidurmu pada pojok kecil itu, bermain dalam kesendirian. Akalmu tak pernah padam berpijar, itu katamu dan aku percaya. Kamu selalu percaya dirimu hanya butuh puntung – puntung tempatmu dapat menciptakan bulatan yang kamu hembuskan kuat – kuat, mungkin kamu percaya disanalah terapi antistres terbaik. Setidaknya kepulan itu hanya akan menggantung dalam beberapa detik, lalu hilang dan tak akan pernah janji untuk kembali.
Dalam kepulan itu kamu tabung sebagian kecil kepenatan yang kau sisakan disetiap penghujung hari. Ia yang layak kamu sebut sahabat. Kepulan itu tak mampu berpikir, semua yang kau limpahkan terbagi utuh, tak menjadi dua atau setengah. Ia tak bernyawa sehingga kamu tak perlu takut rahasiamu terbongkar. Kepulan bukan mereka yang kamu anggap tak punya pekerjaan lain selain menggangu hidupmu. Kamu menggangapnya berjasa, karena dialah kamu bertahan. Karena kepulan dimalam hari kamu mampu menjaga batas kewarasan yang memang seharusnya begitu.
Kerapuhanmu tak punya cukup alasan untuk mengorbankan mereka yang masih butuh akan cintamu. Dia tak punya bukti cukup untuk membuatmu mengaku kalah. Kamu yang rapuh namun selalu terlihat bertahan. Kamu yang lelah namun selalu memijat dan menghilangkan lelahku dengan tersenyum. Jangan menyerah untuk berlari, garismu masih jauh
Selasa, 24 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar