Ini cerita tentang Bulan, seorang gadis kaya dengan harta bergudang – gudang yang menjanjikan padanya lebih dari sebuah kebahagiaan. Harta yang memungkinkannya menghabiskan waktu berjam – jam dengan hanya dengan melemparkan kaki dan tangannya pada seseorang untuk dibersihkan. Menikmati setiap belaian yang dinamakan perawatan agar rambutnya yang lembuit selalu menawan.
Bulan bahkan tak terbiasa menggunakan jemarinya dengan optimal sejak belia. Ia menggunakan jarinya ketika butuh untuk menunjuk dan itulah yang terjadi hingga kini. Bulan tak terbiasa menghabiskan waktunya untuk sekedar mengobrol apalagi berempati terhadap orang – orang disekelilingnya. Bila mulutnya terus – menerus bergerak hanya ada tiga kemungkinan : makan, mengomel atau memerintah para “si kecil” baginya.
Wajah Bulan cantik. Keindahan fisiknya mampu membuat siapa saja yang melihatnya menahan nafas. Ia begitu sempurna. Sayang, jarak kedua sudut bibinya tak pernah jauh. Selalu didekat – dekatkannya hanya agar orang lain enggan.
Bulan enggan berteman, baginya orang yang mendekati dan melamar menjadi temannya hanya ingin menghisap kekayaannya. Ia tak pernah tahu daya hisap orang – orang itu, maka ia tak ingin ambil resiko. Di sekolahnya Bulan memang punya sekelompok orang yang selalu setia baginya. Namun semuanya berpangkat tak lebih tinggi dari si bibi, si inem, sopir, satpam di rumahnya. Begitulah Bulan memandang dunianya terlalu naïf, munafik tingkat tinggi.
Bulan selalu menjadi ratu dimana – mana, ia disanjung dan dipuja. Tak terhitung lagi berapa banyak pria muda hingga paruh baya yang saling adu kuat tapi hanya dianggap “hiburan” bagi Bulan. Begitu pula dengan hati para pemudi yang ingin menjadi seperti seorang Bulan.
Bulan tetaplah Bulan, indah namun hanya bisa dipandang tanpa mampu digapai. Ia hanya bisa dinikamti dari kejuahan. Bulan menjaga jarak dengan siapapun. Ini bentuk balas dendamnya pada perlakuan orang tuanya. Ia asing bagi mereka. Orang tua Bulan kira dengan mencukupkan segala kebutuhan puterinya bahkan melebihi batas maksimal, Bulan akan bahagia. Mereka lupa bahwa Bulan juga butuh belaian, tempat mengadu serta sahabat yang mengerti keinginan hatinya.
Bulan tak pernah merasakan ciuman mama-papa yang mendarat pada pipi mulusnya ataupun sekedar ucapan “selamat” , padahal peringkat yang tertera pada lembaran raportnya selalu pertama. Bulan kesepian, ia sendirian.
Bulan frustasi, tapi anti mengiba – iba. Ia punya segalanya. Ia cantik, hartanya berlimpah. Semua orang adalah budaknya dan ia adalah ratu. Dibenakannya dirinya yang begitu mempesona dari satu laki – laki hingga yang lain. Ia mencari rasa aman dan nyaman tapi yang didapat selalu penghiantan. Bulan itu cantik, tapi membosankan. Begitu kata para prianya.
Jadilah Bulan memasang kelambu dan benteng berlapis untuk melindungi dirinya. Ia tak pernah ingin melukai orang lain lewat kata dan perbuatannya. Semua yang ia lakukan hanya semata untuk melindungi raga dan hatinya agar tak tersakiti lagi
Jumat, 27 Agustus 2010
Selasa, 24 Agustus 2010
Ketidaksempurnaan
Kiara baru saja pulang. Make – up tebal sisa pemotretan tadi masih melekat pada wajahnya. Ia sudah terlalu lelah sehingga memutuskan untuk langsung naik ke mobil dan akhirnya tertidur disana. Kiara adalah seorang model terkenal. Ia baru saja menyelesaikan pemotertan di sebuah studio di bilangan Jakarta Selatan.
Tak terasa, Kia, panggilan akrabnya sudah sampai di rumahnya. Langkahnya sempoyongannya pun dipaksa berjejalan pada anak tangga menuju kamarnya. Kini Kia telah sampai pada depan pintu kamarnya. Dengan kelelahan yang masih tertahan, ia duduk di depan meja riasnya. Selalu diingatnya pesan bunda untuk selalu membersihkan sisa make – up agar kulit wajahnya tidak berjerawat.
Mata lelah Kia kini tertumpu pada bayangan di depannya. Jelas terlihat disana seorang wanita dengan kemeja merah dan celana pendek dengan make – up tebal. Betapa sempurnanya wajah Kia disana. Tidak ada bekas jerawat, sapuan bedak menyamarkan kulit wajahnya yang sedikit agak lebih gelap. Sapuan bedak yang hampir sama pun sukses menutupi kantung matanya. Sisi glamournya tercermin dari riasan warna dikelopak matanya. Hidungnya yang tidak terlalu mancung nampak runcing sempurna dengan derajat yang tepat sesuai dengan bentuk wajah ovalnya.
Kia tercenung. Begitu sempurna gambaran dirinya dicermin itu. Apakah harus dihapus? Kia terdiam. Ia masih tak menemukan jawabannya. “Tapi ini semua palsu” sebersit suara itu timbul dari sudut hati Kia yang paling pojok. Kia terkejut mendengarnya. Palsu? Kesempurnaan ini palsu? Lalu apa yang hakiki.
Mata Kia tertumpu pada seonggok kapas dan dua botol larutan pembersih. Ini rutin dilakukannya hampir setiap malam. Lalu mengapa harus jengah? Mengapa harus ragu untuk menghapus kesempurnaan semu ini? Namun malam ini lain, seruling hari meniupkan hembusan tanda usia Kia yang resmi bertambah. Ia menghantarkan Kia pada sebuah perenungan yang mahal harganya.
Diambilnya beberapa lembar kapas lalu dibubuhkan cairan pembersih yang berupa cream. Sapuan kapas Kia mengembalikan warna asli kulitnya. Tak ada lagi gemerlap dan warna – warni yang tadi menghiasi wajahnya. Yang terlihat sekarang hanyalah wajah muda seorang gadis berusia 20 tahun dengan warna yang tak merata antara bagian leher dan wajah, hidung yang tak seberapa mancung serta bekas jerawat samar pada bagian kiri pipinya serta kantung mata yang menggantung dibawah matanya.
Kini Kia menatap gambaran dirinya pada cermin di depannya. Inilah kesempurnaan dirinya sebagai manusia. Letaknya yang paling hakiki ada pada ketidaksempurnaan. Kesempurnaan tidaklah selalu terlihat indah.
Tak terasa, Kia, panggilan akrabnya sudah sampai di rumahnya. Langkahnya sempoyongannya pun dipaksa berjejalan pada anak tangga menuju kamarnya. Kini Kia telah sampai pada depan pintu kamarnya. Dengan kelelahan yang masih tertahan, ia duduk di depan meja riasnya. Selalu diingatnya pesan bunda untuk selalu membersihkan sisa make – up agar kulit wajahnya tidak berjerawat.
Mata lelah Kia kini tertumpu pada bayangan di depannya. Jelas terlihat disana seorang wanita dengan kemeja merah dan celana pendek dengan make – up tebal. Betapa sempurnanya wajah Kia disana. Tidak ada bekas jerawat, sapuan bedak menyamarkan kulit wajahnya yang sedikit agak lebih gelap. Sapuan bedak yang hampir sama pun sukses menutupi kantung matanya. Sisi glamournya tercermin dari riasan warna dikelopak matanya. Hidungnya yang tidak terlalu mancung nampak runcing sempurna dengan derajat yang tepat sesuai dengan bentuk wajah ovalnya.
Kia tercenung. Begitu sempurna gambaran dirinya dicermin itu. Apakah harus dihapus? Kia terdiam. Ia masih tak menemukan jawabannya. “Tapi ini semua palsu” sebersit suara itu timbul dari sudut hati Kia yang paling pojok. Kia terkejut mendengarnya. Palsu? Kesempurnaan ini palsu? Lalu apa yang hakiki.
Mata Kia tertumpu pada seonggok kapas dan dua botol larutan pembersih. Ini rutin dilakukannya hampir setiap malam. Lalu mengapa harus jengah? Mengapa harus ragu untuk menghapus kesempurnaan semu ini? Namun malam ini lain, seruling hari meniupkan hembusan tanda usia Kia yang resmi bertambah. Ia menghantarkan Kia pada sebuah perenungan yang mahal harganya.
Diambilnya beberapa lembar kapas lalu dibubuhkan cairan pembersih yang berupa cream. Sapuan kapas Kia mengembalikan warna asli kulitnya. Tak ada lagi gemerlap dan warna – warni yang tadi menghiasi wajahnya. Yang terlihat sekarang hanyalah wajah muda seorang gadis berusia 20 tahun dengan warna yang tak merata antara bagian leher dan wajah, hidung yang tak seberapa mancung serta bekas jerawat samar pada bagian kiri pipinya serta kantung mata yang menggantung dibawah matanya.
Kini Kia menatap gambaran dirinya pada cermin di depannya. Inilah kesempurnaan dirinya sebagai manusia. Letaknya yang paling hakiki ada pada ketidaksempurnaan. Kesempurnaan tidaklah selalu terlihat indah.
Langit
Seindahnya langit, disana tersimpan energi mendung yang tak mapu hadir setiap saat. Meski dari bawah hanya terlihat satu lapisannya, seperti layaknya perut bumi, ia butuh banyak pondasi yang berdasar pada sisi teratas dan taka kan pernah terlihat dari bawah. Ia butuh banyak penyanngga hingga mampu berdiri kokoh. Langit tak biosa berdiri sendiri, ia selalu butuh bumi yang tak bisa lepas dari perlindungannya.
Seindahnya langit, ia tetap butuh mendung dan hujan. Bumi perlu di netralisir setelah tertimpa panas matahari yang kini mencapai 38oC. langit selalu menjadi tumpuan bagi burung – burung terbang bebas, tanpa iktanan. Langit selalu hadir tanpa ikatan dengan apapun yang menikmati buah perjuangannya.
Langit terlihat indah dan gagah dari bawah, tanpa ada yang tahu langit bekerja keras untuk itu. Sebagai penghuni bumi yang terlindungi oleh langit, aku berucap terimakasih.
Untuk lapisan ozon yang hampir kehilangan daya
Seindahnya langit, ia tetap butuh mendung dan hujan. Bumi perlu di netralisir setelah tertimpa panas matahari yang kini mencapai 38oC. langit selalu menjadi tumpuan bagi burung – burung terbang bebas, tanpa iktanan. Langit selalu hadir tanpa ikatan dengan apapun yang menikmati buah perjuangannya.
Langit terlihat indah dan gagah dari bawah, tanpa ada yang tahu langit bekerja keras untuk itu. Sebagai penghuni bumi yang terlindungi oleh langit, aku berucap terimakasih.
Untuk lapisan ozon yang hampir kehilangan daya
Hijau yang Hangus
Dulu di sini rimbun, sejuk, tentram. Belum ada kebisingan deru mesin yang berlomba mengeksekusi ketemtraman itu. Kini hijau tak lagi jadi tuannya, ia tak mapu lagi merayu siapa saja untuk melepas lelah dan tak lagi berdaya untuk menyediakan udara yang menjadi sahabat paru – paru. Si hijau mengais pilu, ia merasa sendiri. Tak banyak yang peduli. Padahal ia hanya ingin melayani kebutuhan manusia, tapi manusia terlalu pintar untuk berpikir tentang ketentraman si hijau. Ia lebih mudah untuk membuat lubang – lubang atas nama pondasi di sana – sini. Tak ada lagi tempat kehidupan si hijau di tengah kota. Kokohnya si dahan sebesar tiang kini tak lagi mudah terlihat.
Si hijau terjajah. Turun tahta dari si penguasa yang melayani menjadi si terjajah yang tersingkir. Kini si hijau jengah. Tak dimilikinya lagi tempat tinggal, semua diambil. Sahabanya si cokelat baik hati kini telah menjadi jahanam. Diajaknya bekerja sama semua zat di perut bumi, dari yang hanya berefek ringan hingga berat.
Kita hanya bisa tercengang, ada yang menangis,juga meratap. Kemegahan yang direnggut dari si hijau harus hilang lagi. Sesuatu yang didapat dengan cara jahanam, akan pergi dengan cara yang sama.
Si hijau terjajah. Turun tahta dari si penguasa yang melayani menjadi si terjajah yang tersingkir. Kini si hijau jengah. Tak dimilikinya lagi tempat tinggal, semua diambil. Sahabanya si cokelat baik hati kini telah menjadi jahanam. Diajaknya bekerja sama semua zat di perut bumi, dari yang hanya berefek ringan hingga berat.
Kita hanya bisa tercengang, ada yang menangis,juga meratap. Kemegahan yang direnggut dari si hijau harus hilang lagi. Sesuatu yang didapat dengan cara jahanam, akan pergi dengan cara yang sama.
Temperatur Versus
Siang itu begitu cerah. Matahari mengirim sinarnya ke bumi tanpa malu – malu. Sinar itu senantiasa menembus awan demi bersilahturahmi dengan penduduk bumi ketika hampir mayoritas jumlah mereka yang bergulat dengan kesibukan di luar rumah. Entah kesibukan pekerjaan, perkuliahan, sekolah atau apa pun yang mengharuskan mereka berada di luar ruangan dan berjumpa dengan suasana bukan ala temperatur kamar, baik normal ataupun kamar bermesin pendingin.
Matahari memang adil, dibaginya dengan cuma – cuma sinar yang mengandung energi itu pada siapa saja tanpa tebang pilih. Namun sayang, tak semua yang mendapat bagian sinar itu bersikap baik. Beberapa bahkan ada yang terang – terangan menolak keberadaanya. Ada yang berlindung dengan menyalakan mesin pendigin mobil, ada yang menggunakan baju panjang atau sarung tangan dan kaus kaki lengkap dengan sepatunya (khusunya bagi pengemudi motor) untuk menutupi permukaan tangan atau bagian tubuh yang dirasa perlu dari jamahan mentari, ada pula yang melindungi tubuhnya dengan menggunakan sejumlah produk yang iklannya menjanjikan perlindungan terhadap terpaan sinar matahari yang diberi image merugikan itu.
Sementara pada pelataran umum itu, di sisi jalannya berjejeran beberapa orang yang nasibnya tak seberuntung para pengendara mobil itu. Jangankan untuk membeli produk pelindung kulit seperti para pemudi yang terpaksa berlalulintas menggunakan angkutan umum namun tak ingin kulitnya menggelap. Atau seperti pengemudi motor yang menutupi selurih tubuhnya kecuali wajah dengan dalih menghindari pinangan debu dan mentari dengan manusia. Mereka tidak termasuk dalam barisan orang – orang yang sibuk membenamkan diri dengan berbagai keperluan itu.
Diatas semua usaha para penakut matahari, kaum marginal dipinggir jalan itu makin terpojok dan pasrah menerima kasih sayang dari Tuhan itu, meski resikonya adalah kulit mereka akan berubah warna menjadi makin gelap. Bagi orang Indonesia, warna kulit gelap termasuk dihindari. Kesan tak cantik yang telah “dijual” para produsen pemutih kulit menjadi ujung tombaknya. Padahal bila ingin menalarkan logika, Indonesia adalah negara tropis yang berada pada garis khatulistiwa dan mendapat sajian jumlah sinar matahari yang cukup banyak, selain itu rata – rata gen orang Indonesia memang menjatahkan warna kulit gelap bagi pemilinya. Lantas, mungkinkah takdir itu dilawan oleh keinginan manusia yang ingin berkulit putih cerah?
Keperluan kaum marjinal tentu tak lepas dari soal perut. Bagi mereka, penampilan tidak termasuk dalam skala prioritas. Maka kulit merekalah yang menjadi wadah empuk bagi paparan sinra matahari. Namun apa daya kaum ini menolaknya semantara tak dimilikinya fasilitas seperti para pengguna kendaraan yang melintas itu?
Sadarkah para pernakut matahari yang berlindung pada temperatur yang dihasilkan mesin pendingin udara itu menyumbang robekan demi robekan yang terus menjajah lapizan ozon. Sehingga apa yang mereka lakukan sejatinya adalah upaya sia – sia yang berujung kerusakan alam yang kian parah.
Matahari memang adil, dibaginya dengan cuma – cuma sinar yang mengandung energi itu pada siapa saja tanpa tebang pilih. Namun sayang, tak semua yang mendapat bagian sinar itu bersikap baik. Beberapa bahkan ada yang terang – terangan menolak keberadaanya. Ada yang berlindung dengan menyalakan mesin pendigin mobil, ada yang menggunakan baju panjang atau sarung tangan dan kaus kaki lengkap dengan sepatunya (khusunya bagi pengemudi motor) untuk menutupi permukaan tangan atau bagian tubuh yang dirasa perlu dari jamahan mentari, ada pula yang melindungi tubuhnya dengan menggunakan sejumlah produk yang iklannya menjanjikan perlindungan terhadap terpaan sinar matahari yang diberi image merugikan itu.
Sementara pada pelataran umum itu, di sisi jalannya berjejeran beberapa orang yang nasibnya tak seberuntung para pengendara mobil itu. Jangankan untuk membeli produk pelindung kulit seperti para pemudi yang terpaksa berlalulintas menggunakan angkutan umum namun tak ingin kulitnya menggelap. Atau seperti pengemudi motor yang menutupi selurih tubuhnya kecuali wajah dengan dalih menghindari pinangan debu dan mentari dengan manusia. Mereka tidak termasuk dalam barisan orang – orang yang sibuk membenamkan diri dengan berbagai keperluan itu.
Diatas semua usaha para penakut matahari, kaum marginal dipinggir jalan itu makin terpojok dan pasrah menerima kasih sayang dari Tuhan itu, meski resikonya adalah kulit mereka akan berubah warna menjadi makin gelap. Bagi orang Indonesia, warna kulit gelap termasuk dihindari. Kesan tak cantik yang telah “dijual” para produsen pemutih kulit menjadi ujung tombaknya. Padahal bila ingin menalarkan logika, Indonesia adalah negara tropis yang berada pada garis khatulistiwa dan mendapat sajian jumlah sinar matahari yang cukup banyak, selain itu rata – rata gen orang Indonesia memang menjatahkan warna kulit gelap bagi pemilinya. Lantas, mungkinkah takdir itu dilawan oleh keinginan manusia yang ingin berkulit putih cerah?
Keperluan kaum marjinal tentu tak lepas dari soal perut. Bagi mereka, penampilan tidak termasuk dalam skala prioritas. Maka kulit merekalah yang menjadi wadah empuk bagi paparan sinra matahari. Namun apa daya kaum ini menolaknya semantara tak dimilikinya fasilitas seperti para pengguna kendaraan yang melintas itu?
Sadarkah para pernakut matahari yang berlindung pada temperatur yang dihasilkan mesin pendingin udara itu menyumbang robekan demi robekan yang terus menjajah lapizan ozon. Sehingga apa yang mereka lakukan sejatinya adalah upaya sia – sia yang berujung kerusakan alam yang kian parah.
Genggam aku sekuat tenagamu dan aku akan hancur
Kamu menggengamku, begitu kuat sampai aku meringis kesakitan tapi tak ada pedulimu. Katamu yang kau beri adalah tuntunan tapi yang kurasa, aku seperti dipakaikan tali kekang. Katamu kamu menginginkan semua yang terbaik untuku tapi aku beranggapan semua usahamu itu akan membunuhku perlahan. Bagiku kamu bukan lagi pasangan yang ada disampingku. Kamu kerap didepanku untuk menariku, terkadang dibelakang untuk mendorong atau mencambuk punggungku.
Kamu tahu aku begitu memujamu, tapi mengapa itu menjadi umpan yang tak pernah kau kembalikan lagi padaku sayang? Mengapa sejuta aksi selalu kau pasang setiap kali aku tidak menuruti titahmu? Mengapa kau letakan aku dibawah kakimu, setiap saat kau pasti memeperkan kotoran dikepalaku? Apa yang membuatku menciut setiap kali kau katakan tentang perpisahan? Seriuskah itu? Atau cuma hentakan saja agar aku menjadi seperti yang kau mau
Sayang, izinkan aku melebarkan sayapku. Beri aku kepercayaan untuk membangun lagi relasi yang telah kau injak hingga layu. Aku ingin berlari, bukan untuk meninggalkanmu tapi hanya untuk memastikan bahwa aku belum lumpuh. Aku hanya ingin berkreasi pada waktu yang ada, 24 jam sehari.
Aku tidak pernah ingin benar – benar pergi darimu. Sekali lagi, aku begitu memujamu. Aku hanya ingin berjalan beriringan, jemari kita tertaut dengan sadar dan sukarela. Aku memimpikan setiap obrolan yang menyenangkan, dan berjalan dua arah untuk mencari kecocokan.
Maaf sayang, aku tak pernah bermaksud untuk merendahkan martabat yang bagimu segala – galanya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku juga punya hak yang sama. Jangan jadikan aku budakmu karena kau meminangku sebagai belahan jiwamu. Aku sering menghayal tentang larian kita yang seiring bahkan gerakan kita mengepak sayap yang sama sehingga kita akan sama – sama di Puncak lalu bergandengan lagi.
Genggam aku, tapi jangan sekuat tenaga karena aku akan hancur nanti. Aku ini rapuh dan perlu penjaga. Maka kupercayakan kamu tak lagi akan mengenggam tanganku seperti meremas cucian
Persembahan untuk temanku,
Kamu punya hak untuk menentukan hidupmu
Kamu tahu aku begitu memujamu, tapi mengapa itu menjadi umpan yang tak pernah kau kembalikan lagi padaku sayang? Mengapa sejuta aksi selalu kau pasang setiap kali aku tidak menuruti titahmu? Mengapa kau letakan aku dibawah kakimu, setiap saat kau pasti memeperkan kotoran dikepalaku? Apa yang membuatku menciut setiap kali kau katakan tentang perpisahan? Seriuskah itu? Atau cuma hentakan saja agar aku menjadi seperti yang kau mau
Sayang, izinkan aku melebarkan sayapku. Beri aku kepercayaan untuk membangun lagi relasi yang telah kau injak hingga layu. Aku ingin berlari, bukan untuk meninggalkanmu tapi hanya untuk memastikan bahwa aku belum lumpuh. Aku hanya ingin berkreasi pada waktu yang ada, 24 jam sehari.
Aku tidak pernah ingin benar – benar pergi darimu. Sekali lagi, aku begitu memujamu. Aku hanya ingin berjalan beriringan, jemari kita tertaut dengan sadar dan sukarela. Aku memimpikan setiap obrolan yang menyenangkan, dan berjalan dua arah untuk mencari kecocokan.
Maaf sayang, aku tak pernah bermaksud untuk merendahkan martabat yang bagimu segala – galanya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku juga punya hak yang sama. Jangan jadikan aku budakmu karena kau meminangku sebagai belahan jiwamu. Aku sering menghayal tentang larian kita yang seiring bahkan gerakan kita mengepak sayap yang sama sehingga kita akan sama – sama di Puncak lalu bergandengan lagi.
Genggam aku, tapi jangan sekuat tenaga karena aku akan hancur nanti. Aku ini rapuh dan perlu penjaga. Maka kupercayakan kamu tak lagi akan mengenggam tanganku seperti meremas cucian
Persembahan untuk temanku,
Kamu punya hak untuk menentukan hidupmu
kepulan
Kamu masih saja menggatang, sama seperti kemarin – kemarin. Tak pernah terkatan dari bibirmu tentang hatimu yang porak poranda ataupun ketika kau berdansa di lantai marmer bernama sukacita. Tak pernah kau bagikan tangis yang menyayat sampai yang kulihat hanya ada kerut diwajahmu.
Tak pernah kujumpai sejumput kawan yang tumbuh bersamamu, seperti kawanan semut yang rela menggotong bangkai ramai – ramai. Mereka hanya membagi kisahnya, bukan berarti mereka tak mau tahu tentang kepedihan yang hanya kau belah bersama sebelah jiwamu. Aku tahu betapa robohnya pertahananmu, kenyataan ini sungguh bukan perkara semudah memakan buah simalakama. Bahkan untuk bersimpuh pada teras sang empunya saja kadang kau malu
Kamu selalu menghabiskan malam – malam sebelum tidurmu pada pojok kecil itu, bermain dalam kesendirian. Akalmu tak pernah padam berpijar, itu katamu dan aku percaya. Kamu selalu percaya dirimu hanya butuh puntung – puntung tempatmu dapat menciptakan bulatan yang kamu hembuskan kuat – kuat, mungkin kamu percaya disanalah terapi antistres terbaik. Setidaknya kepulan itu hanya akan menggantung dalam beberapa detik, lalu hilang dan tak akan pernah janji untuk kembali.
Dalam kepulan itu kamu tabung sebagian kecil kepenatan yang kau sisakan disetiap penghujung hari. Ia yang layak kamu sebut sahabat. Kepulan itu tak mampu berpikir, semua yang kau limpahkan terbagi utuh, tak menjadi dua atau setengah. Ia tak bernyawa sehingga kamu tak perlu takut rahasiamu terbongkar. Kepulan bukan mereka yang kamu anggap tak punya pekerjaan lain selain menggangu hidupmu. Kamu menggangapnya berjasa, karena dialah kamu bertahan. Karena kepulan dimalam hari kamu mampu menjaga batas kewarasan yang memang seharusnya begitu.
Kerapuhanmu tak punya cukup alasan untuk mengorbankan mereka yang masih butuh akan cintamu. Dia tak punya bukti cukup untuk membuatmu mengaku kalah. Kamu yang rapuh namun selalu terlihat bertahan. Kamu yang lelah namun selalu memijat dan menghilangkan lelahku dengan tersenyum. Jangan menyerah untuk berlari, garismu masih jauh
Tak pernah kujumpai sejumput kawan yang tumbuh bersamamu, seperti kawanan semut yang rela menggotong bangkai ramai – ramai. Mereka hanya membagi kisahnya, bukan berarti mereka tak mau tahu tentang kepedihan yang hanya kau belah bersama sebelah jiwamu. Aku tahu betapa robohnya pertahananmu, kenyataan ini sungguh bukan perkara semudah memakan buah simalakama. Bahkan untuk bersimpuh pada teras sang empunya saja kadang kau malu
Kamu selalu menghabiskan malam – malam sebelum tidurmu pada pojok kecil itu, bermain dalam kesendirian. Akalmu tak pernah padam berpijar, itu katamu dan aku percaya. Kamu selalu percaya dirimu hanya butuh puntung – puntung tempatmu dapat menciptakan bulatan yang kamu hembuskan kuat – kuat, mungkin kamu percaya disanalah terapi antistres terbaik. Setidaknya kepulan itu hanya akan menggantung dalam beberapa detik, lalu hilang dan tak akan pernah janji untuk kembali.
Dalam kepulan itu kamu tabung sebagian kecil kepenatan yang kau sisakan disetiap penghujung hari. Ia yang layak kamu sebut sahabat. Kepulan itu tak mampu berpikir, semua yang kau limpahkan terbagi utuh, tak menjadi dua atau setengah. Ia tak bernyawa sehingga kamu tak perlu takut rahasiamu terbongkar. Kepulan bukan mereka yang kamu anggap tak punya pekerjaan lain selain menggangu hidupmu. Kamu menggangapnya berjasa, karena dialah kamu bertahan. Karena kepulan dimalam hari kamu mampu menjaga batas kewarasan yang memang seharusnya begitu.
Kerapuhanmu tak punya cukup alasan untuk mengorbankan mereka yang masih butuh akan cintamu. Dia tak punya bukti cukup untuk membuatmu mengaku kalah. Kamu yang rapuh namun selalu terlihat bertahan. Kamu yang lelah namun selalu memijat dan menghilangkan lelahku dengan tersenyum. Jangan menyerah untuk berlari, garismu masih jauh
Langganan:
Postingan (Atom)