Selamat malam senja, sudah lupakah kau pada sinar fajar yang selalu muncul di ufuk timur kemarin sore?
Ketika kita masih becanda dalam ketiak pohon cemara yang berdiri kokoh di tepi lembayung?
Hey, mengapa sekarang kau malah menyinari malam? Memangnya kau pikir matahari itu cukup adil bagi bumi? Mengapa tak kembali kemari lalu bermain masak-masakan dengan mangkuk daun seperti yang sering kita lakukan dulu?
Kemari, sini. Tidak kedinginan ya melintas malam-malam? Tidak lelah ya membebani hidupmu dengan target-target itu?
Jika mau terbang malam-malam, ajak aku donk. Kita bergurau lagi. Kamu mau tidak? Sepertinya tidak.
Selasa, 06 Desember 2011
Kamis, 01 Desember 2011
Percakapan Mata Dengan Hati
Mata : hey banyak yang menarik hati, ayo kita pilih satu untuk dijadikan dambaan
Hati : kamu saja dululah, kan dari mata turun ke hati. Kalau kamu suka pasti aku suka...
Mata : Baiklah, sekarang akan aku pilihkan yg terbaik. Tentu saja menurut perhitunganku. Kalau aku suka kamu pasti suka kan?
Hati : iya mata, apa pun yg kamu suka aku pasti suka
Mata : Hey, kalau yang itu bagaimana? Matanya indah, rahangnya bagus, badannya atletis
Hati : biasa saja, dia menarik. Baiklah akan kutaruh hatiku padanya
Beberapa bulan kemudian :
hati : Hey mata, mengapa kau menangis?
Mata : Hati, tahukah kau orang yang telah kita pilih adalah orang yang salah?
Hati : bagaimana mungkin salah? Dia kan menarik.
Mata : dia orang yang kasar, tidak pedulian, sombong, egois.
Hati : Apaaaa????? Tapi bahkan aku sudah berdoa untuk dia!!!! Kemana doaku?
Mata tidak sanggup menjawab. Bibirnya gemetar tak mau diam, badannya panas dingin. Ada rasa penyesalan pada hati. Kecewa pasti
Sepuluh tahun kemudian,
Ketika yang seharusnya hitam semakin merapuh, ketika yang seharusnya pekat memudar, kekecewaan mata memuncak. Ia menyerah memilih.
Mata : Hati, aku lelah. Semua pilihanku tidak ada yangh tepat.
Hati : Jangan putus asa mata
Mata : Tidak. Aku lelah. Aku malas memilih lagi.
Hati : Lalu aku bagaimana? Aku kan butuh tempat bersandar...
Mata : Aku lelah. Kalau kau mau, pilih saja sendiri.
Mata menyadari suara hati yang mulai mengisak kecil. Mata terbelalak, hatinya menangis. Demi apa pun, rasanya sangat perih.
Mata menunduk,
Hati, sekarang kau boleh pilih yang kau suka. Tapi jangan lagi lihat dari sudut pandangku. Pilihlah sesuai hatimu.
Hati mengerti, di tatapnya dunia dengan cara baru. Bahwa apa yang terlihat belum tentu sama dengan yang di dalam.
Hati tidak butuh banyak kriteria untuk memilih.
Hati : kamu saja dululah, kan dari mata turun ke hati. Kalau kamu suka pasti aku suka...
Mata : Baiklah, sekarang akan aku pilihkan yg terbaik. Tentu saja menurut perhitunganku. Kalau aku suka kamu pasti suka kan?
Hati : iya mata, apa pun yg kamu suka aku pasti suka
Mata : Hey, kalau yang itu bagaimana? Matanya indah, rahangnya bagus, badannya atletis
Hati : biasa saja, dia menarik. Baiklah akan kutaruh hatiku padanya
Beberapa bulan kemudian :
hati : Hey mata, mengapa kau menangis?
Mata : Hati, tahukah kau orang yang telah kita pilih adalah orang yang salah?
Hati : bagaimana mungkin salah? Dia kan menarik.
Mata : dia orang yang kasar, tidak pedulian, sombong, egois.
Hati : Apaaaa????? Tapi bahkan aku sudah berdoa untuk dia!!!! Kemana doaku?
Mata tidak sanggup menjawab. Bibirnya gemetar tak mau diam, badannya panas dingin. Ada rasa penyesalan pada hati. Kecewa pasti
Sepuluh tahun kemudian,
Ketika yang seharusnya hitam semakin merapuh, ketika yang seharusnya pekat memudar, kekecewaan mata memuncak. Ia menyerah memilih.
Mata : Hati, aku lelah. Semua pilihanku tidak ada yangh tepat.
Hati : Jangan putus asa mata
Mata : Tidak. Aku lelah. Aku malas memilih lagi.
Hati : Lalu aku bagaimana? Aku kan butuh tempat bersandar...
Mata : Aku lelah. Kalau kau mau, pilih saja sendiri.
Mata menyadari suara hati yang mulai mengisak kecil. Mata terbelalak, hatinya menangis. Demi apa pun, rasanya sangat perih.
Mata menunduk,
Hati, sekarang kau boleh pilih yang kau suka. Tapi jangan lagi lihat dari sudut pandangku. Pilihlah sesuai hatimu.
Hati mengerti, di tatapnya dunia dengan cara baru. Bahwa apa yang terlihat belum tentu sama dengan yang di dalam.
Hati tidak butuh banyak kriteria untuk memilih.
Langganan:
Postingan (Atom)