Terimakasih angin, karena kamu ada dan diciptakan untuk menyejukan. Terimakasih karena sifatmu yang nomaden sehingga tuanmu hanyalah kebebasan. Boleh jujur tidak? Aku iri padamu. Sangat iri. Tidak ada yang bias mengekangmu, tak satu pun sanggup memilikimu karena kamu tak bias dibelenggu bahkan oleh pertauran dan norma – norma yang mengikatku.
Angin, maaf karena aku hanya memanggilmu selahi butuh dan sekarang aku ingin bercerita padamu. Bukan hanya untuk menuntaskan rasa penat atau gerahku tapi untuk menceritakan kegundahanku. Bukan jawaban yang aku butuhkan, tapi hanya kemampuan berbicara yang setidaknya bisa sedikit mengangkatku dari semua hal yang kuanggap masalah
Angin, aku rindu dia. Tapi tidak mungkin membagi kisah ini pada dia yang menjadi sasaranku. Sekali lagi tidak mungkin. Pada mereka yang biasa mendengar juga sepertinya bukan pilihan tepat. Mereka jengah. Maka aku pilih kamu dengan alasana kamu tidak akan mungkin bosan karena setelah mendengarku kamu akan pergi dan tidak ingat percakapan kita
Aku ingin memiliki dia tapi kepalaku selalu menghadang dengan menyajikan jawaban tidak mungkin. Mungkinkah angin? Kemarilah angin, jangan pergi dulu aku belum selesai. Mari kita bercanda, bermain atau apalah. Aku tidak butuh dihibur, hanya butuh teman untuk berdiskusi
Sabtu, 11 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar