Aku marah. Kamu kecewa. Aku menangis. Kamu meraung. Aku Kamu. Terdiam. Diam diam membangun tembok. Diam diam saling menyingkir. Diam diam menyimpan bara dalam hati. Diam diam menyayat dinding kasih sayang yang terbangun sejak aku kecil. Kasih sayang yang selalu kamu bagikan lewat perhatian pun tatapan cemas tatkala aku tersenggal merayap dalam helaan nafas.
Pesan singkat itu tak seperti yang kamu lihat. Seperti sebuah potret, ia hanya bagian yang tak bisa dilihat hanya satu. Aku terangkai dalam lorong waktu, terbiasa dengan biasamu pun celotehan yang nyatanya punya peranan penting dalam bentukanku kini.
Hey, kamu kecewa? Kamu marah? Kamu terkejut karena nyantanya aku juga miliki taring yang kamu bisikan ketika aku pulas? Aku juga marah, aku juga kecewa.
Ayo kita marah bersama. Biar kobaran api itu mengalah atas nama tali darah yang kita punya. Persetan dengan mereka yang masih mau simpan bara. Jelasnya aku tidak berkenan.
Terimakasih
Minggu, 25 Maret 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar