Minggu, 12 Februari 2012

Halo Langit Biru

Jendelaku kin tak lagi langsung mengarah pada rembulan di ufuk barat
Jejaring plastik yang entah apa namanya itu menghalangi bias mentari yang biasanya memanggangku hingga pekat
Hai langit biru,
maaf dari sini birumu tak terlihat jelas terhalang pastisi
Hai sinar silau matahari,
Aku rindu tertawa berderai dibawahmu seperti dulu
Rindu ikatan rambut asal tanpa harus terlihat rapi...
Rindu teriakan melangking yang dianggap biasa
Hei, langit biru...
Jangan berubah warna ya
Aku ingin melihat birumu lagi nanti
Biar bisa kuceritakan tentang birumu pada anakku kelaka
Agar kuserahkan dia melangkah sambil ditingkahi panas ombak lalu debu jalanan
Agar ia bisa terbang kelak
Dan tak berlindung dibalik partisi seperti aku

Tidak ada komentar: