Tiga tahun perjalanan ini kulalui tanpa dirinya. Ia yang telah ringkih, pergi menjejak tanah lain yang berkilo – kilo meter jauhnya dari hutan perdu. Ia yang entah berlari atau jengah dengan segala bentuk perendahan yang memporak porandakan harga dirinya. Ia yang berusaha mencarikan gandum terbaik dari sawah yang berlumpur….
Ia ayahku
Pria itu tubuhnya tak kekar, namun sehat berisi. Kulitnya serupa sawo yang ranum, manis begitulah perangainya. Tak segan ia mengulurkan tangan bagi mereka yang butuh, sekalipun hanya dipandang sebelah mata ia akan tertawa lebar – lebar. Ditengah dayanya yang serupa bangku reot, masih dijejal – jelakannya usaha agar sesamanya bahagia.
Dia volentir kebanggaaku. Tak ada tanda jasa yang layak disandingkan baginya. Itu karena ketulusannya yang menyejukan seperti pohon perdu.
Dan aku, si musim kemarau yang kering di sini merindukan si pohon perdu yang menjanjikan oksigen berkali lipat lebih banyak…
Sungguh aku tak menyesal menjadi buah pohon perdu, sekalipun rupaku tak seindah apel atau menggoda seperti anggur tapi si pohon perdu mewariskan kesejukan yang kini hendak kubagi pada mereka yang tak menengadah
Rabu, 12 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar