Seorang gadis cilik, kecil, bermandikan gula – gula dengan topi pelangi, berenang diantara kepulan awan yang tak lelah membelai. Ia bisa menikmati warna langit yang terus menerus biru dengan cahaya matahari dengan sinar hangatnya. Kehangatan yang tak akan pernah menjadi panas atau pun dingin. Gadis kecil itu bisa makan kue kapan saja, tanpe memikirkan rasa lapar atau kekurangan. Ia membuat istana pasir dari kumpulan udara yang dibekukan dengan sejumput garam. Si gadis memanen biji kopi diantara lengkungan pelangi, menari dengan lagu merdu dari kicauan burung gereja yang selalu lewat, bernyanyi bersama tiupan angin.
Nyatanya si gadis terjatuh, terjerembab menyentuh tanah. Tak ada pelangi, tak ada matahari yang selalu hangat, jauh dari kicauan burung bahkan dari puncak pohon. Gadis kecil hanya menatap ke atas, menggapai gemintang yang sinarnya tak terlihat, menghayalkan tetang kehidupan diatas sana. Si gadis polos kini menyadari, ini bumi. Kerap ia harus terjatuh untuk tahu artinya bangkit, mengais untuk bisa menghargai kepunyaan, meminta untuk bisa memberi. Ia harus belajar merangkak untuk bisa berjalan kemudian berlari lalu mengepakan sayap dan terbang. Ia belajar, karena ini bukan khayangan
Selasa, 04 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar