Kamis, 01 Desember 2011

Percakapan Mata Dengan Hati

Mata : hey banyak yang menarik hati, ayo kita pilih satu untuk dijadikan dambaan

Hati : kamu saja dululah, kan dari mata turun ke hati. Kalau kamu suka pasti aku suka...

Mata : Baiklah, sekarang akan aku pilihkan yg terbaik. Tentu saja menurut perhitunganku. Kalau aku suka kamu pasti suka kan?

Hati : iya mata, apa pun yg kamu suka aku pasti suka

Mata : Hey, kalau yang itu bagaimana? Matanya indah, rahangnya bagus, badannya atletis

Hati : biasa saja, dia menarik. Baiklah akan kutaruh hatiku padanya

Beberapa bulan kemudian :
hati : Hey mata, mengapa kau menangis?

Mata : Hati, tahukah kau orang yang telah kita pilih adalah orang yang salah?

Hati : bagaimana mungkin salah? Dia kan menarik.

Mata : dia orang yang kasar, tidak pedulian, sombong, egois.

Hati : Apaaaa????? Tapi bahkan aku sudah berdoa untuk dia!!!! Kemana doaku?

Mata tidak sanggup menjawab. Bibirnya gemetar tak mau diam, badannya panas dingin. Ada rasa penyesalan pada hati. Kecewa pasti

Sepuluh tahun kemudian,
Ketika yang seharusnya hitam semakin merapuh, ketika yang seharusnya pekat memudar, kekecewaan mata memuncak. Ia menyerah memilih.

Mata : Hati, aku lelah. Semua pilihanku tidak ada yangh tepat.

Hati : Jangan putus asa mata

Mata : Tidak. Aku lelah. Aku malas memilih lagi.

Hati : Lalu aku bagaimana? Aku kan butuh tempat bersandar...

Mata : Aku lelah. Kalau kau mau, pilih saja sendiri.

Mata menyadari suara hati yang mulai mengisak kecil. Mata terbelalak, hatinya menangis. Demi apa pun, rasanya sangat perih.

Mata menunduk,
Hati, sekarang kau boleh pilih yang kau suka. Tapi jangan lagi lihat dari sudut pandangku. Pilihlah sesuai hatimu.

Hati mengerti, di tatapnya dunia dengan cara baru. Bahwa apa yang terlihat belum tentu sama dengan yang di dalam.

Hati tidak butuh banyak kriteria untuk memilih.

Tidak ada komentar: