Selasa, 16 November 2010

Setengah

Sebuah pintu pagar kayu yang reot berdiri tertahan didepan sebuah rumah kokoh dengan idealisme liberalis yang sangat lekat. Sang pagar yang realistis begitu menginginkan menjadi bagian dari rumah klasik yang mengadopsi gaya ningrat itu.
Meski tahu itu mustahil, sang pagar selalu berharap, ia menaburkan harapannya dalam segenggam doa yang selalu dipersembahkan setiap purnama. Diberikannya yang terbaik yang ia bisa. Ia tak peduli pakah sang rumah mewah menyadari pengorbanannya yang terus berjaga dari kejauhan.
Ia memang pagar tua reot yang menginginkan menjadi bagian dari rumah mewah tanpa pernah ingin mengubah dirinya menjadi pagar mewah agar cocok bersanding di sana. Baginya, rumah tua itu adalah batu dan dirinya air. Ia akan terus menerus menetesi batu dengan air hingga akhirnya berlubang.
Dari rumah mewah itu, lalu lalang orang masuk. Ini karena sang tuan rumah baik hati, dijamunya setiap orang yang hadir. Keberadaan mereka pun karena undangan yang tak mengenal omega, terus menerus. Ribuan orang hadir, dan sang pagar reot ters menagamati, takut ada pencuri yang merebut isi rumah mewah itu. Lelah betul perasaan sip agar reot. Dia harus terus menerus menahan airmata manakalan ada yang datang dan menjamah rumah impiannya.
Kini, sang pagar reot mulai letih karena harapnya tak kunjung nyata. Ia merunduk, menutup pagarnya. Namun baru setengah menutup, sang rumah tersenyum dan mengajaknya bercanda, meretas hari bersama. Pagar reot membuka lagi dirinya, dibiarkannya angin malam dan terik mentari menembus tubuhnya demi bisa menatap sang rumah mewah. Lalu tamu yang tanpa omega itu datang lagi, senyum rumah mewah pun beralih. Sang pagar reot menunduk lagi.
Demikian terus menerus, sang pagar reot tidak pernah bisa menutup diri karena sang rumah terus menerus membutuhkannya ketika malam tiba dan tak ada tamu yang datang. Demikianlah, sang pagar reot hany bisa menutup diri setengah saja. Setidaknya ini adil bagi dirinya dan rumah mewah. Ia menjaga pertahanan dirinya serta menjaga rumah mewah agar tidak pernah kesepian.

Tidak ada komentar: