Rabu, 27 Oktober 2010

Tuan Pembersih Hama

Rumahku dulu adalah belantara masa lalu yang aku pelihara bersama rasa bersalah dan penyesalan.
Rumahku yang dulu penuh gambut dan tapak kaki yang tidak pernah aku bersihkan, lumutnya pun busuk dan tak hijau lagi
rumahku dulu bercat gelap, atapnya kubiarkan dari seng yang panas ketika siang dan dingin saat malam.
Aku bahkan tidak pernah tersenyum di sana, sementara hanya tembok penuh jejak berkas rembesan air yang menjadi temanku berbagi.
Lalu, sore itu si tuan pembersih hama datang. Ia bertamu tanpa permisi. Jejaknya bahkan tak pernah aku hapus dan aku potret dalam lembar abadi, lalu aku masukan kotak besi berbahan dasar harapan.
Sejak sore itu, tuan pembersih hama selalu mampir, mengajarkan aku untuk pelan - pelan menata rumahku.
Membisikan ke telingaku untuk bermimpi lagi, menggantungkan impian setinggi angkasa, jika tak sampai maka harap itu akan menggelayut di tubuh bintang. Itu pesannya, dan aku tempel menjadi hiasan utama dirumahku
tuan pembersih hama memang tak pernah mau menetap dibawah atapku yang kini berbahan gypsum dan didalam tembok yang kini bertekstur merah bata dan coklat. Ia hanya bertamu di teras rumahku yang kini berisikan tanaman hijau dan menjadi tempat bermain kupu - kupu.
Ia memang tidak berpesan apa - apa. tapi jejaknya dalam bingkai kaca itu akan terus menjadi benih kebahagiaan yang akan aku jaga selalu.

Terimakasih untuk pijakanmu, Tuan Pembersih Hama yang terhormat.

Tidak ada komentar: